Ubah Ejekan Jadi Rangkulan, Aksi Inspiratif Mahasiswa KKN mengedukasi Anti-Bullying di SD Negeri Pasirkadu 4

1 minggu yang lalu
Ubah Ejekan Jadi Rangkulan, Aksi Inspiratif Mahasiswa KKN mengedukasi Anti-Bullying di SD Negeri Pasirkadu 4

Pasirkadu, 11 Agustus 2026 Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mathla'ul Anwar (UNMA) Banten Kelompok 18 Desa Pasirkadu, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Pandeglang, melaksanakan kegiatan edukasi Stop Bullying di SD Negeri Pasirkadu 4 pada Selasa, 11 Agustus 2026. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Divisi Pendidikan sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat sekaligus upaya menanamkan kesadaran tentang bahaya perundungan kepada siswa sekolah dasar sejak dini.

Kegiatan edukasi mengusung tema "Ubah Ejekan Jadi Rangkulan" dengan tujuan memberikan pemahaman dasar kepada siswa mengenai pengertian bullying, bentuk-bentuk perundungan, baik secara fisik, verbal, maupun sosial, serta dampaknya terhadap korban, pelaku, dan lingkungan sekolah.

Materi disampaikan melalui pendekatan yang komunikatif dan interaktif agar mudah dipahami oleh siswa. Mahasiswa KKN memberikan contoh perilaku yang dapat dikategorikan sebagai bullying, seperti mengejek fisik atau kekurangan teman, memberikan julukan yang menyakitkan, mengucilkan teman dari kelompok, hingga melakukan tindakan kekerasan.

Para siswa juga diajak memahami bahwa sesuatu yang dianggap sebagai candaan oleh pelaku belum tentu dianggap lucu oleh orang lain. Karena itu, mereka diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga ucapan, menghargai perbedaan, membangun empati, dan berani mengambil tindakan ketika melihat perundungan.

Ketua KKN Universitas Mathla'ul Anwar Banten Kelompok 18, Saepul Anwar, menyampaikan bahwa pendidikan anti-bullying merupakan bagian penting dalam pembentukan karakter anak.

" Kami ingin anak-anak memahami bahwa setiap orang memiliki perbedaan dan perbedaan tersebut bukan alasan untuk saling mengejek atau merendahkan. Melalui kegiatan ini, kami berharap siswa dapat belajar menjadi teman yang saling menghargai, berani membela teman yang menjadi korban, serta ikut menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi semua".

Menurut Saepul, mahasiswa KKN tidak hanya memiliki tanggung jawab untuk menjalankan program kerja, tetapi juga perlu menghadirkan edukasi yang memiliki manfaat jangka panjang bagi masyarakat, khususnya bagi generasi muda.

Penanggung Jawab Divisi Pendidikan, Idham Kholid, menegaskan bahwa perundungan tidak hanya berdampak terhadap korban, tetapi juga dapat merusak iklim sosial di lingkungan sekolah secara keseluruhan.

" Ancaman perundungan bukan hanya berdampak pada korban, tetapi juga merusak iklim sosial di lingkungan sekolah secara keseluruhan. Selama ini, masalah terbesar dalam kasus bullying adalah hadirnya budaya pembiaran, di mana siswa lain yang melihat kejadian tersebut cenderung memilih diam karena takut atau menganggapnya biasa".

Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut diarahkan untuk mengubah pola pikir siswa yang hanya menjadi penonton ketika melihat perundungan.

"Melalui kegiatan ini, Divisi Pendidikan hadir untuk merestrukturisasi pola pikir para siswa: kita mentransformasi posisi mereka dari sekadar penonton pasif atau bystander menjadi pelindung yang aktif atau upstander. Kami menanamkan pemahaman bahwa berani bersuara dan melaporkan tindakan perundungan bukanlah bentuk pengaduan yang lemah, melainkan sebuah tindakan keberanian dan wujud nyata dari kepedulian terhadap sesama teman".

Anggota Divisi Pendidikan sekaligus pembawa acara, Sindi Aulia Andriana Dewi, turut menyampaikan pesan kepada para siswa mengenai pentingnya menghargai perbedaan.

"Bullying bukan sebuah candaan. Jangan jadikan kekurangan atau perbedaan orang lain sebagai bahan tertawaan. Kita tidak pernah tahu seberapa dalam perkataan kita dapat menyakiti perasaan orang lain. Mari belajar untuk saling menghargai, saling merangkul, dan menjadi teman yang memberikan rasa aman bagi teman lainnya".

Melalui diskusi dan interaksi bersama siswa, mahasiswa KKN mengajak peserta untuk mengenali situasi bullying yang mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari serta memahami langkah yang dapat dilakukan ketika menjadi korban maupun ketika melihat teman mengalami perundungan.

Kegiatan Stop Bullying ini merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa KKN Kelompok 18 berharap edukasi tersebut dapat memberikan dampak positif dan mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang lebih aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari budaya perundungan.

Melalui semangat "Ubah Ejekan Jadi Rangkulan", mahasiswa mengajak seluruh siswa untuk membangun kebiasaan baru: dari mengejek menjadi menghargai, dari diam menjadi berani bersuara, serta dari sekadar menjadi penonton menjadi pelindung bagi sesama.

Mahasiswa KKN Universitas Mathla'ul Anwar Banten Kelompok 18 berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah kecil yang memberikan dampak besar dalam membangun karakter siswa. Kesadaran untuk menghargai perbedaan, berani bersuara, dan melindungi teman diharapkan dapat tumbuh menjadi budaya positif di lingkungan SD Negeri Pasirkadu 4.

Ubah ejekan menjadi rangkulan. Ubah diam menjadi keberanian. Karena setiap anak berhak belajar dan tumbuh di lingkungan yang aman, nyaman, dan saling menghargai.

Bagikan artikel ini

Bantu teman Anda menemukan artikel ini

Artikel Terbaru